Selasa, 14 Februari 2012

Ebiet G. Ade - Camellia II

Gugusan hari-hari
Indah bersamamu Camelia
Bangkitkan kembali
Rinduku mengajakku kesana

Inginku berlari
Mengejar seribu bayangmu Camelia
Tak peduli kau kuterjang
Biar pun harusku tembus padang ilalang

Tiba-tiba langkahku terhenti
Sejuta tangan telah menahanku
Ingin kumaki mereka berkata
Tak perlu kau berlari
Mengejar mimpi yang tak pasti
Hari ini juga mimpi
Maka biarkan ia dating
Di hatimu... di hatimu..

Gendheng bicara pada Sableng

Kami masih sibuk untuk berpikir, bagaimana kita berbicara, bagaimana dengan bahasa atau kalimat. Dalam beberapa kasus, mungkin penting. Namun, mulai ketika kita bicara dan apa yang kita bicarakan, itu jauh lebih penting.

Orang-orang di luar diri kita, sebenarnya mereka ada di sana untuk tidak menghakimi. Mereka berada di sana untuk mendapatkan pesan yang akan disampaikan, dan mereka benar-benar tidak peduli tentang orang-orang yang menyampaikan pesan. Mereka hadir dengan tujuan memperoleh informasi, pelajaran, inspirasi, dan hiburan.

Oleh karena itu, berhenti berpikir tentang diri Anda saja, dan mulai berpikir tentang mereka. Berhenti pikir jika Anda dijatuhi hukuman mati oleh regu tembak. Mulai berpikir sebagai seseorang yang memiliki sesuatu yang berharga untuk disampaikan kepada mereka yang ingin mendengarkan. Ketika Anda mulai fokus pada kebutuhan mereka, dan melepaskan pikiran dari diri sendiri, ada tidak perlu takut, karena hidup adalah proses belajar.

Banyak orang percaya bahwa mereka selalu dihantaui pengalaman masa lalu yang memalukan, menindas peristiwa, apakah itu terjadi di masa kecil atau hanya beberapa hari lalu. Bagi mereka, peristiwa ini menciptakan ketakutan yang berlebihan.

Mengakui bahwa setiap hal yang memalukan adalah cobaan yang sangat buruk. Tapi kemudian, berkata:

Pertama, tidak ada rencana untuk gagal, dan Anda tidak dapat selalu mengendalikan setiap situasi.

Kedua, Anda harus melewati acara sehingga Anda memiliki kesempatan untuk menerima tantangan baru.

Ketiga, kejadian ini di masa lalu dan telah berlalu, sehingga tidak mungkin terjadi dalam acara yang sama persis. Jadi selanjutnya adalah terserah Anda.

Bila Anda tetap fokus pada peristiwa mengerikan dari masa lalu, maka peluang keberhasilan akan hilang. Ambil pelajaran dari peristiwa itu dan menggunakannya untuk melakukan lebih baik di masa depan. Kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti. Setiap kegagalan yang kita hadapi menyediakan informasi berharga untuk perbaikan di masa depan. Anda akan memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan, tetapi hanya jika Anda berfokus pada kekuatan dan keberhasilan Anda.

Takut membuat kesalahan adalah seperti satu sisi dari koin. Sisi lain adalah perasaan keinginan besar untuk berhasil dan memberikan kesan yang baik. Kunci utamanya adalah untuk berlatih. Praktek akan meminimalkan kesalahan. Kunci lainnya adalah untuk mendapatkan umpan balik dari orang lain. Praktek adalah untuk berani melakukannya, sesuai dengan kemampuan ukuran. Umpan balik penting, penilaian, perbandingan, dan tentu saja langkah berikutnya adalah menunggu.

Dalam rangka untuk membuat perdamaian dengan rasa takut membuat kesalahan, yang terbaik adalah untuk mengakui kenyataan bahwa kesalahan bisa terjadi, bahkan kepada mereka yang paling terampil dan ahli. Dan yang penting adalah apa yang Anda lakukan terhadap kesalahan tersebut. Semakin Anda menunjukkan ketidaknyamanan dari kesalahan yang terjadi, semakin besar kemungkinan orang, atau mereka, akan tahu, bahwa Anda adalah pecundang.

Bagaimana untuk memperbaiki kesalahan adalah untuk mempelajari kesalahan tenang. Mengambil tindakan korektif yang diperlukan. Fokus pada apa yang Anda inginkan berikutnya. Dan seterusnya. Lupakan kesalahan yang terjadi, dan lanjutkan dengan latihan atau pekerjaan Anda. Jadi, mereka menunggu untuk Anda, akan melupakan kesalahan-kesalahan Anda. Mereka akan mengagumi cara Anda melanjutkan latihan hidup Anda, dan mungkin mereka akan merasa lega untuk mengetahui bahwa Anda juga pria yang dapat membuat kesalahan.

Damai dengan Diri Sendiri

Senin, 13 Februari 2012

CARA MEMBUAT ORANG LAIN SENANG KEPADA KITA

1. Sungguh-sungguh berminat terhadap orang lain.
Cara pertama membuat orang lain menyukai kita adalah dengan menunjukkan minat terhadap orang lain. Berminat terhadap orang lain dapat berarti suka bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat kecerdasan sosial yang kita miliki. Semakin baik kecerdasan sosial yang kita miliki, akan memudahkan kita untuk bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Hal inilah nantinya yang akan membuat orang lain tersebut menyenangi diri kita. Selain itu, kita akan mendapatkan lebih banyak kawan dalam waktu 2 bulan dengan cara menjadi tertarik pada orang lain dibandingkan dengan yang kita peroleh dalam waktu 2 tahun dengan cara mengusahakan orang lain tertarik pada anda.

2. Tersenyumlah
Prof. James V. Mc Connell, seorang psikolog dari Michigan pernah berkata: "Orang yang tersenyum, cenderung mampu mengatasi, mengajar dan menjual dengan lebih efektif dan membesarkan anak-anak yang lebih bahagia". Pembaca yang budiman, dengan tersenyum kepada orang yang kita jumpai, menunjukkan bahwa kita senang berjumpa dengan dia. Senyuman yang tulus bermakna bahwa kita sedang merasa senang. Dan rasa senang merupakan salah satu bentuk emosi positif yang dapat kita "tularkan" kepada orang lain. Kondisi yang menyenangkan inilah yang memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan lebih baik. Nah, bagaimana kalau pada saat itu kita tengah mendapatkan masalah? Paksakan diri untuk tersenyum. Latihlah diri kita untuk mampu tersenyum bagaimanapun masalah menghimpit kita. Dengan memaksakan diri untuk tersenyum, akan mampu mengurangi rasa kesal/marah/sedih yang timbul karena adanya masalah. Penulis tertarik dengan sebuah pepatah Cina kuno yang mengatakan: "Seseorang tanpa wajah tersenyum tidak boleh membuka toko". Apa makna dari pepatah tersebut? Ya…. Senyuman yang diberikan oleh pelayan toko, akan membuat pembeli merasa senang untuk belanja di toko tersebut yang pada gilirannya nanti akan menjadi pelanggan setia. Makna yang lebih luas adalah dengan tersenyum kepada seseorang akan membuat orang tersebut menyukai kita dan segala hal yang berhubungan dengan kita(termasuk usaha kita).

3. Ingatlah nama seseorang
Yakinkah pembaca bahwa rata-rata orang menaruh minat kepada namanya sendiri dari pada nama orang lain di dunia ini? Oleh sebab itu, agar kita disenangi oleh orang lain maka kita perlu menyebut nama orang tersebut ketika bertemu dengannya. Ingatlah dengan baik nama orang itu, dan panggil nama itu dengan nada yang bersahabat. Jika hal itu sudah dilakukan, maka berarti kita sudah memberikan pujian kepadanya. Hati-hati, jangan sampai salah menyebut nama seseorang, karena hal itu akan menimbulkan rasa yang kurang enak dihati orang yang punya nama. Kita juga tidak boleh lupa dengan nama seseorang yang pernah kita temui. Hal ini memang sulit dilakukan. Bisa jadi karena kita jarang bertemu, atau baru ketemu sekali dengan rentang waktu yang lama. Bisa juga disebabkan karena kita tidak meluangkan waktu, energi dan konsentrasi untuk mengingat nama seseorang. Oleh sebab itu, agar kita disenangi oleh orang lain, mari kita berlatih untuk mengingat nama seseorang. Ingatlah:"nama mempunyai keajaiban dan merupakan milik orang itu".

4. Jadilah pendengar yang baik.
Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga. Hal ini berarti kita diminta untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Menjadi pendengar yang baik. Orang lebih suka kepada pendengar yang baik daripada pembicara yang baik. Menjadi pendengar yang baik merupakan suatu keterampilan dan kemampuan yang jarang dan susah untuk dimiliki. Dale carnegie mengingatkan bahwa: " orang yang menjadi lawan bicara anda seratus kali lebih tertarik dengan diri mereka, keinginan, masalah mereka dibandingkan dengan minat mereka pada anda dan masalah anda" Oleh sebab itu, kita perlu mempelajari dan memiliki keterampilan menjadi pendengar yang baik. InsyaAllah, penulis akan mencoba menulis hal tersebut diwaktu mendatang.

5. Buat orang lain merasa penting
Cara terakhir yang dikemukakan oleh Carnegie adalah buat seseorang merasa dirinya penting. Apabila kita hanya mementingkan diri sendiri, sehingga tidak mampu memberikan perhatian dan penghargaan kepada orang lain, kita akan menemui kegagalan. Merasa diri kita orang penting dan menggangap remeh orang lain bukanlah suatu sikap yang terpuji. Hal itu akan menyebabkan kebencian terhadap diri kita. Orang akan cenderung menjauhi kita.

6. Bicarakan minat-minat orang lain
Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, bahwa orang lebih suka dan tertarik untuk membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan dirinya. Salah satunya adalah minat yang dimilikinya. Jika anda mengetahui bahwa orang yang menjadi lawan bicara anda menyukai masalah politik, ajaklah dia berbicara tentang situasi politik yang sedang berjalan. Tunjukkan kepadanya bahwa anda juga berminat terhadap masalah politik dengan memberikan berbagai tanggapan. Doronglah dia untuk berbicara lebih jauh tentang hal tersebut, sehingga menimbulkan semangat dalam diri mereka. Adanya semangat untuk berbicara dengan kita, serta keinginan kita untuk membicarakan hal-hal yang menjadi minatnya itulah yang nantinya membuat dia menyenangi kita. Dia merasa nyaman dan enak bergaul dengan kita.

██████ GendhengS, 141212  ██████

Ari Lasso Cintailah Aku Sepenuh Hati

Dimana, kemana kau CINTA


Suatu hari seorang murid  bertanya pada gurunya  ”Guru ajari saya Cinta.” Sang guru lantas menyuruhnya pergi kedalam hutan untuk mencari sebatang ranting yang dianggap paling lurus, tapi ingat syaratnya adalah ; ”satu kali memilih dan jangan kembali pada pilihan yang lalu.

Murid itupun  menelusuri hutan dan mencoba mencari ranting kayu yang dianggap lurus. Pertama dia menemukan sebuah ranting yang pas dihatinya, tetapi kemudian dia membuangnya dan berfikir masih akan ada ranting-ranting didepan sana yang lebih baik dan lurus, dan juga karena hutan yang masih begitu luas. Semakin jauh ia  berjalan Ia pun hanya mengulang adegan yang sama seperti ranting yang pertama kali Ia temukan, Ia pun kembali ke gurunya dengan tidak membawa sebatang ranting pun.

Didepan gurunya Ia menuturkan kalau Ia tidak menemukan apa-apa. Sebenarnya ia sudah mendapati beberapa ranting yang menurutnya lurus, tetapi karena Ia terlalu berfikir dan baru menyadarinya ketika Ia sampai pada batas hutan, Ia teringat dengan beberapa ranting sebelumnya yang pas dihatinya maka terlintas keinginan untuk kembali kebelakang dan mengambilnya, akan tetapi Ia teringat pesan gurunya ” Jangan kembali pada pilihan yang lalu” yakni pilihan yang sudah terlewatkan. 

Gurunya pun bertutur ;
Guru : Itulah Cinta. Seharusnya kamu tempatkan Cinta dihatimu untuk kamu rasakan, akan tetapi kamu menempatkannya pada nalar logikamu, olehnya kamu tidak menemukan apa-apa.

” Realitasnya adalah, betapa manusia terlalu memilih pada sisi nalar sehingga waktu mereka habis hanya untuk membandingkan segala sesuatu tanpa pernah berhenti untuk merasakan sesaat akan suatu keadaan dengan suka cita, selanjutnya merekapun luput dari keinginan berterimakasih pada alam semesta. Disisi lain, manusia dalam mencari pasangan hidupnya terlalu terobsesi pada standar-standar ketetapan yang diciptakan oleh alam pikirnya yang lahir dari interaksi indera dan egosentris hingga  membuat manusia lebih banyak memilih dan memilah namun sedikit dalam rasa, akhirnya banyak yang tidak menemukan pasangan hidupnya. Jika sudah diambang batas usia, merekapun semakin gelisah. Lantas haruskah mereka meraih sembarang ranting yang ada?

Pada sebuah kesempatan yang lain, sang murid  kembali bertanya pada gurunya ; ”Guru, Ajari saya tentang perkawinan.” Sang guru lantas menyuruhnya pergi kedalam hutan untuk menemukan sebatang pohon yang dianggap paling rindang dan lebat, syaratnya adalah sama dengan ketika ia mencari ranting yang lurus. Sang muridpun menelusuri hutan dan mencoba mencari pohon yang paling lebat dan rindang menurutnya. Setelah menemukan sebatang pohon yang pas dihatinya Ia pun kembali menghadap gurunya. Ia menyampaikan kalau Ia sudah menemukan pohon yang rindang dan lebat, akan tetapi ada yang aneh dalam perjalanan pulang,  ia melihat beberapa pohon lainnya yang ternyata lebih lebat, lebih rindang dan lebih indah dari pilihan dia sebelumnya, terlintas keinginan untuk merubah pilihannya akan tetapi Ia teringat akan pesan gurunya yakni ; ”hanya satu kali memilih”, gurunyapun bertutur ;

Guru : Itulah perkawinan, seharusnya kamu menjalankannya dengan hati sehingga dapat merasakan makna dari perkawinan, tetapi kamu menjalankannya denga logika pikiranmu, olehnya kamu sibuk membandingkan apa yang kamu miliki dengan berbagai hal diluar sana termasuk pasangan hidupmu.

Realitasnya adalah betapa manusia menjalani hidup yang dikendalikan oleh akal pikiran yang terproses dari interaksi indrawi, maka lahirlah perbandingan akan apa yang ada pada pasangan hidupnya dengan yang ada pada sosok yang lain, ini adalah sebagian dari sebuah awal akan lahirnya berbagai kegagalan dalam rumah tangga, yang umumnya berdalil pada alasan semu dan naif ”Ketidak-Cocokan”.

Tidak cocok hadir karena proses logika dan nalar, sementara hati adalah sumber tautan Cinta dari sumber Cinta sejati.
 Hati yang tercahayakan akan merespon segala sesuatu dengan kesejukan dan bermuara pada kedamaian.
Nalar merespon segala sesuatu dengan ukuran dan bermuara pada perbedaan, perbedaan inilah yang tidak bisa direspon oleh hati karena hati telah karam dalam kegelapan, hati yang tidak pernah diasah atau diarahkan untuk menemukan cahayanya.