Senin, 13 Februari 2012

Dimana, kemana kau CINTA


Suatu hari seorang murid  bertanya pada gurunya  ”Guru ajari saya Cinta.” Sang guru lantas menyuruhnya pergi kedalam hutan untuk mencari sebatang ranting yang dianggap paling lurus, tapi ingat syaratnya adalah ; ”satu kali memilih dan jangan kembali pada pilihan yang lalu.

Murid itupun  menelusuri hutan dan mencoba mencari ranting kayu yang dianggap lurus. Pertama dia menemukan sebuah ranting yang pas dihatinya, tetapi kemudian dia membuangnya dan berfikir masih akan ada ranting-ranting didepan sana yang lebih baik dan lurus, dan juga karena hutan yang masih begitu luas. Semakin jauh ia  berjalan Ia pun hanya mengulang adegan yang sama seperti ranting yang pertama kali Ia temukan, Ia pun kembali ke gurunya dengan tidak membawa sebatang ranting pun.

Didepan gurunya Ia menuturkan kalau Ia tidak menemukan apa-apa. Sebenarnya ia sudah mendapati beberapa ranting yang menurutnya lurus, tetapi karena Ia terlalu berfikir dan baru menyadarinya ketika Ia sampai pada batas hutan, Ia teringat dengan beberapa ranting sebelumnya yang pas dihatinya maka terlintas keinginan untuk kembali kebelakang dan mengambilnya, akan tetapi Ia teringat pesan gurunya ” Jangan kembali pada pilihan yang lalu” yakni pilihan yang sudah terlewatkan. 

Gurunya pun bertutur ;
Guru : Itulah Cinta. Seharusnya kamu tempatkan Cinta dihatimu untuk kamu rasakan, akan tetapi kamu menempatkannya pada nalar logikamu, olehnya kamu tidak menemukan apa-apa.

” Realitasnya adalah, betapa manusia terlalu memilih pada sisi nalar sehingga waktu mereka habis hanya untuk membandingkan segala sesuatu tanpa pernah berhenti untuk merasakan sesaat akan suatu keadaan dengan suka cita, selanjutnya merekapun luput dari keinginan berterimakasih pada alam semesta. Disisi lain, manusia dalam mencari pasangan hidupnya terlalu terobsesi pada standar-standar ketetapan yang diciptakan oleh alam pikirnya yang lahir dari interaksi indera dan egosentris hingga  membuat manusia lebih banyak memilih dan memilah namun sedikit dalam rasa, akhirnya banyak yang tidak menemukan pasangan hidupnya. Jika sudah diambang batas usia, merekapun semakin gelisah. Lantas haruskah mereka meraih sembarang ranting yang ada?

Pada sebuah kesempatan yang lain, sang murid  kembali bertanya pada gurunya ; ”Guru, Ajari saya tentang perkawinan.” Sang guru lantas menyuruhnya pergi kedalam hutan untuk menemukan sebatang pohon yang dianggap paling rindang dan lebat, syaratnya adalah sama dengan ketika ia mencari ranting yang lurus. Sang muridpun menelusuri hutan dan mencoba mencari pohon yang paling lebat dan rindang menurutnya. Setelah menemukan sebatang pohon yang pas dihatinya Ia pun kembali menghadap gurunya. Ia menyampaikan kalau Ia sudah menemukan pohon yang rindang dan lebat, akan tetapi ada yang aneh dalam perjalanan pulang,  ia melihat beberapa pohon lainnya yang ternyata lebih lebat, lebih rindang dan lebih indah dari pilihan dia sebelumnya, terlintas keinginan untuk merubah pilihannya akan tetapi Ia teringat akan pesan gurunya yakni ; ”hanya satu kali memilih”, gurunyapun bertutur ;

Guru : Itulah perkawinan, seharusnya kamu menjalankannya dengan hati sehingga dapat merasakan makna dari perkawinan, tetapi kamu menjalankannya denga logika pikiranmu, olehnya kamu sibuk membandingkan apa yang kamu miliki dengan berbagai hal diluar sana termasuk pasangan hidupmu.

Realitasnya adalah betapa manusia menjalani hidup yang dikendalikan oleh akal pikiran yang terproses dari interaksi indrawi, maka lahirlah perbandingan akan apa yang ada pada pasangan hidupnya dengan yang ada pada sosok yang lain, ini adalah sebagian dari sebuah awal akan lahirnya berbagai kegagalan dalam rumah tangga, yang umumnya berdalil pada alasan semu dan naif ”Ketidak-Cocokan”.

Tidak cocok hadir karena proses logika dan nalar, sementara hati adalah sumber tautan Cinta dari sumber Cinta sejati.
 Hati yang tercahayakan akan merespon segala sesuatu dengan kesejukan dan bermuara pada kedamaian.
Nalar merespon segala sesuatu dengan ukuran dan bermuara pada perbedaan, perbedaan inilah yang tidak bisa direspon oleh hati karena hati telah karam dalam kegelapan, hati yang tidak pernah diasah atau diarahkan untuk menemukan cahayanya.

Rabu, 14 Desember 2011

TEORI KEJIWAAN SOSIAL


1.     Aktifitas atau kegiatan ( activity theory )

a.   Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut dalam banyak kegiatan social
b.      Ukuran optimum ( pola hidup ) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia
c.    Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia

2.     Kepribadian berlanjut ( continuity theory )
Dasar kepribadian aatau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.

3.     Teori Pembebasan ( Disengagement theory )
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara bengangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda ( tripel loss ), yakni
a.      kehilangan peran
b.      hambatan kontak sosial 
c.   berkurangnya kontak komitmen


Kamis, 08 Desember 2011

TEKANAN JIWA

Masalah, hampir semua orang pernah atau bahkan sedang menghadapi masalah. Masalah ini dapat menjadi tekanan jiwa dan setiap individu tidak sama dalam menerima tekanan jiwa itu. Tahap tekanan ditentukan oleh sikap individu itu sendiri serta lingkungan sekitar juga turut mempengaruhinya. Tekanan ini dapat menyebabkan berbagai masalah lainnya dan bahkan dapat menyebabkan penyakit fisik dan jiwa.

1. Bersikap realistik dan positif
pakah masalah itu benar-benar menakutkan atau sekedar khayalan/bayangan kita saja? Apakah akibat buruk daripada masalah itu? dan apa reaksi positif yang bisa kita lakukan? ungkap pertanyaan ini dalam diri kita dan pertimbangkan jawabannya.

2. Menikmati manfaat teknik relaksasi
Teknik relaksasi bisa dilakukan dimana saja, di kantor, mobil, rumah, dll. Langkah-langkahnya seperti berikut ini;
a. duduk tenang dalam posisi yang nyaman
b. penjamkan mata
c. kendurkan semua otot-otot badan
d. tarik nafas melalui hidung dan hembuskan melalui mulut sambil membayangkan kita menyebut “aaa…”
e. lakukan tahapan-tahapan itu selama 10 menit sambil memastikan kita dalam keadaan pasif.
Selain itu tekanan dapat diatasi dengan mengalihkan fikiran, fokus ke hal lain yang dapat membuat kita lebih rileks. Kadangkala sesuatu masalah susah diatasi bukan karena kesulitannya tetapi karena kelelahan otak dalam berfikir, sehingga perlu dipulihkan semula.

3. Senam/Olah raga
Senam adalah cara aktif untuk mencapai ketenangan, senam juga dapat menguatkan tubuh dengan sistem kardiovaskular serta sikap yang positif. Senam juga dapat mengatasi keletihan mental dan fisik, agar dapat mengendurkan otot-otot badan yang tegang. Senam juga dapat merangsang tubuh untuk menghasilkan dan mengedarkan zat endorfin. Zat endorfin adalah 200 kali lebih mujarab memberi ketenangan.

4. Diet yang teratur
Makanan juga berkaitan dengan cara tubuh menghadapi tekanan. Makanan yang bergizi dan menyehatkan dapat memperkuat tubuh dalam menghadapi tekanan. Beberapa pakar menyatakan bahwa vitamin B dan C tambahan bisa memperkuat tubuh menghadapi tekanan.

KECEWA

Siapa sich yang tidak pernah kecewa? siapapun pasti pernah merasakan kecewa, ada yang kecewa karena pekerjaan, teman, atau bahkan kekecewaan karena masalah  KOMPLEKSITAS HIDUP

Perasaan kecewa pun sangat beragam, ada yang dengan mudah melupakan kekecewaan tersebut tetapi ada yang susah bahkan tidak bisa melupakaan rasa kecewa tersebut.

Kecewa memang merupakan hal yang normal tetapi bagaimana kita mengatasi kecewa tersebut yang membedakan kualitas diri kita.
Berikut ini beberapa tips atasi kecewa;

Pahami Puncak Masalah
Pahami puncak permasalahan yang menyebabkan kita kecewa, dengan memahaminya maka kita mudah mencari jalan keluar atau solusinya.

Pahami perasaan Kita
Alangkah baiknya jika kita juga memahami perasaan kita, coba hayati tekanan yang kita hadapi sehingga mudah kita mengatasi rasa kecewa tersebut.

Ikhlas dengan Perasaan Kita Sendiri
Hindari untuk menipu perasaan diri kita sendiri, karena adakalanya rasa kecewa karena hal yang lain. Misal kita kecewa karena rekan kerja berhasil mencapai karir yang lebih tinggi tetapi sebenarnya kita kecewa karena rekan kita itu lebih cantik. Dalam contoh itu kita melihat bahwa kita menambah beban kecewa dengan perasaan kecewa mencapai karir itu bukan cuma lebih cantik. Coba hayati dengan tenang perasaan kita, puncak dari rasa kecewa tersebut.


Pahami Puncak Kekecewaan
Selain memahami puncak masalah, coba pahami juga puncak dari rasa kecewa tersebut. Apakah puncak kecewa tersebut selalu berulang-ulang kita alami? apakah ada salah dalam diri kita? dan sebagainya.

Menghindarinya
Setelah mengetahui dan memahami puncak dari kekecewaan, coba memikirkan apakah hal-hal tersebut dapat dihindari di masa akan datang, sehingga kita masih dan bermankan memiliki harapan dan mencegah hal kecewa tersebut.

Cara mengatasi kekecewaan
Jika kita merasa kita sudah bertindak/berusaha untuk mengatasi kekecewaan tersebut, kita sebenarnya telah berhasil yaitu berhasil didalam menguasai diri kita untuk mengatasi rasa kecewa. Ada beberapa cara ‘obat’ atasi rasa kecewa tersebut;

Fokus perhatian kepada aktivitas lain yang bermanfaat
* Melupakan kekecewaan tersebut dan berkomitmen untuk tidak kecewa lagi
* Meluahkan perasaan kita kepada teman atau orang yang kita percayai

Minta nasehat atau saran dari orang lain
Cobalah untuk meminta nasehat dari orang lain yang kita hormati dan sebaliknya jangan meminta nasehat dari orang yang kita benci atau yang sakitkan hati kita. Intinya adalah jangan menambah perasaan kecewa tetapi mengurangi rasa kecewa tersebut.

Jangan memanjakan perasaan
salah satu obat mengatasi rasa kecewa adalah jangan memanjakan perasaan kita, hindari untuk terlalu membawa perasaan. Coba lakukan aktifitas lainnya yang dapat mengalihkan fikiran dari hal yang menyebabkan rasa kecewa.

Biarkan Otak mengatasi Hati
Cobalah untuk menenangkan perasaan dengan pemikirian, jika kita menggunakan otak untuk mengatasi perasaan (hati) akan lebih mudah kita melihat jalan yang lebih lurus dan rasional. Biasanya pemikiran rasional akan dapat mengatasi rasa kecewa.

Tingkatkan keyakinan diri
Rasa kecewa biasanya muncul ketika kita kurang percaya diri. Hal ini sangat berperan dalam munculnya rasa kecewa pada diri kita.

TIP GENDHENG SABLENG, 8 DESEMBER 2011